JAKARTATERKINI.ID - Dr. Muhammad Iqbal, seorang pengamat politik dari Universitas Jember, mengungkapkan pandangannya terhadap debat keempat calon wakil presiden, khususnya fokus pada Gibran Rakabuming Raka, nomor urut 2.
Iqbal menganggap bahwa Gibran menggunakan debat sebagai wadah untuk mengekspresikan niretika, terutama dalam debat yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pada Minggu (21/1).
Baca juga : MK Tegaskan Pentingnya Stabilitas Syarat Usia Pejabat Publik untuk Hindari Ketidakpastian Hukum
Menurut Iqbal, Cawapres nomor urut 2 seakan hanya mencari efek wow yang problematik dan menunjukkan sikap niretika dalam debat.
Gibran dikritik karena beberapa kali menyentil cawapres nomor urut 1, Muhaimin Iskandar, seperti membaca catatan, bahkan memperagakan gerakan pantomim yang dianggapnya tidak mendapatkan jawaban dari cawapres nomor urut 3, Mahfud Md.
"Sayangnya, patut disesalkan bahwa Gibran masih memandang arena debat sebagai panggung kampanye untuk menonjolkan ego sentrisnya, seolah-olah dirinya adalah anak muda yang mampu 'mengalahkan' dalam debat," tambahnya.
Baca juga : Menkes Jamin Keamanan Vaksin TB yang Sedang Uji Klinis Tahap 3
Iqbal juga menyatakan bahwa debat keempat semakin memberikan pendidikan politik yang kuat kepada calon pemilih, membantu mereka memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pemungutan suara yang akan dilaksanakan pada 14 Februari 2024.
"Calon pemilih diberikan kesempatan untuk menilai etika lingkungan dan etika kepemimpinan dalam mengatur, mengelola, serta memanfaatkan sumber daya sebesar-besarnya untuk masa depan bangsa dan lingkungan," ujarnya.
Bagikan